Yuk Jadi Mahasiswa "Update"

Guna mengimbangi perkembangan jaman yang semakin maju, kita sebagai generasi penerus bangsa harus bisa membuat inovasi dan kreasi yang sesuai dan dapat di implementasikan pada jaman sekarang.
Untuk itu saya mengajak kawan semua untuk menjadi mahasiswa Update, dalam hal ini saya akan membagikan beberapa tips tentang informasi tehnologi yang bisa kita terapkan untuk mempermudah kita dalam menempuh pendidikan.

Optimalisasi Ponsel Android.
saya akan membagikan beberapa tips yang berhubungan dengan ponsel android, faktanya sudah banyak pengguna ponsel android yang biasa di sebut smartphone hanya untuk sms, chat, foto dan telepon. Padahal smartphone lebih dari itu. Dalam hal dunia perkuliahan kita bisa menggunakan android sebagai alat yang sangat bermanfaat salah satunya;

  • Editing file .doc, yang biasanya di lakukan di Laptop atau komputer kita bisa membuat nya di ponsel android dengan menginstal aplikasi office suit
  • Penyimpanan Online, banyak yang tidak tahu bahwa Google sebagai publisher android memberikan tempat penyimpanan data secara online dengan ukuran 5 GB yaitu dengan Google Drive. Untuk lebih lengkap tentang google Drive Bisa ke Artikel Tentang Google Drive
  • Share file, dengan ponsel android kita bisa share dokumen tugas kepada teman dengan cepat. tanpa kita harus datang ke rumah teman atau sahabat yang jaraknya lumayan jauh. Dengan fasilitas email kita bisa mengirimkan file tugas dengan cepat dan praktis.
Semoga informasi bisa membuka wawasan kita dan dapat menginspirasi kita agar menjadi mahasiswa yang Update.

Optimalisasi Perangkat Android Untuk Dunia Perkuliahan

Mungkin sekarang android bukan hal yang aneh lagi, hampir handphone sekarang sudah menggunakan android sebagai operating sistemnya. Nah kali ini saya akan membahas cara optimalisasi perangkat android untuk dunia perkuliahan.

1. Text Editor (Word, Excel, Etc)
Perangkat android sekarang sudah di lengkapi aplikasi untuk pengolahan text dan data seperti file Document dan Excel, jadi memudahkan kita sebagai mahasiswa untuk mengedit file makalah atau tugas yang harus di serahkan secara online.

Cara Aman, Praktis, Murah Menyimpan Dan Berbagi File Via Internet


Disini saya akan membagikan cara bagaimana menyimpan data secara online. Berbeda dengan Mediafire ataupun 4shared kali ini saya akan membahas penggunaan Google Drive, yaitu layanan penyimpanan data Gratis yang bisa di akses melalui Web ataupun ponsel Android, dan space yang di berikan pun lumayan besar yaitu 5 GB, lumayan untuk kantong mahasiswa tak perlu membeli Flashdisk 5GB yang harganya diatas 50.000.

Caranya adalah sebagai berikut :
1. Daftar ke account google, kamu bisa daftar disini
2. Langsung menuju Google Drive
3. Upload file yang akan kamu simpan, maka file kamu akan tersimpan dengan aman di google drive.

Untuk pengguna ponsel android akan sangat mudah dalam mengakses Google Drive ini, kamu tinggal download aplikasinya disini atau kamu bisa cari di Play Store dengan nama Google Drive, dengan aplikasi ini kamu bisa mengupload file dari ponsel ke Google Drive, kamu juga bisa membagi ke teman kamu dengan cara share dan menuliskan alamat email google milik teman kamu, maka teman kamu akan langsung bisa mengakses file tersebut, jadi seandainya kamu akan mengirimkan tugas kuliah ke teman kamu, tinggal upload ke Google Drive lalu share ke teman kamu. Tapi ingat teman yang akan kamu share harus sudah mengaktifkan Google Drive nya ya.

Setelah kamu download di HP android kamu, kamu bisa pindahkan dengan kabel USB ke Komputer Atau Laptop maka file tugas kamu bisa kamu kerjakan deh.

Pengenalan SPSS


SPSS singkatan dari Statistic Product Service Solution merupakan salah satu aplikasi “Statistic software”, SPSS berkembang seiring dengan perkembangan teknologi komputer dewasa ini, sampai saat ini dikenal SPSS Versi 16.
Perbedaan antara versi sebelumnya dengan versi terbaru adalah kemampuan analisis serta menu-menu tampilan sebagai pelengkap dari versi sebelumnya.
Kemampuan program ini adalah melakukan analisis statistik misalnya analisis regresi, korelasi, uji-t, uji-F, analisis factor, analisis validitas dan reliabilitas, serta dapat membuat berbagai grafik, dll.
Berikut saya mencoba memaparkan bagaimana mengola data dengan menggunakan SPSS versi 15 versi ini tidaklah berbeda dengan versi terbaru yaitu versi 15. Download SPSS V15 (160mb)


SPSS adalah sebuah program komputer yang digunakan untuk membuat analisis statistika. SPSS dipublikasikan oleh SPSS Inc.

SPSS (Statistical Package for the Social Sciences atau Paket Statistik untuk Ilmu Sosial) versi pertama dirilis pada tahun 1968, diciptakan oleh Norman Nie, seorang lulusan Fakultas Ilmu Politik dari Stanford University, yang sekarang menjadi Profesor Peneliti Fakultas Ilmu Politik di Stanford dan Profesor Emeritus Ilmu Politik di University of Chicago. SPSS adalah salah satu program yang paling banyak digunakan untuk analisis statistika ilmu sosial. SPSS digunakan oleh peneliti pasar, peneliti kesehatan, perusahaan survei, pemerintah, peneliti pendidikan, organisasi pemasaran, dan sebagainya. Selain analisis statistika, manajemen data (seleksi kasus, penajaman file, pembuatan data turunan) dan dokumentasi data (kamus metadata ikut dimasukkan bersama data) juga merupakan fitur-fitur dari software dasar SPSS.

Statistik yang termasuk software dasar SPSS:


  1. Statistik Deskriptif: Tabulasi Silang, Frekuensi, Deskripsi, Penelusuran, Statistik Deskripsi Rasio
  2. Statistik Bivariat: Rata-rata, t-test, ANOVA, Korelasi (bivariat, parsial, jarak), Nonparametric tests
  3. Prediksi Hasil Numerik: Regresi Linear
  4. Prediksi untuk mengidentivikasi kelompok: Analisis Faktor, Analisis Cluster (two-step, K-means, hierarkis), Diskriminan.

Berbagai fitur dalam SPSS dapat diakses melalui menu pull-down atau dapat diprogram dengan bahasa perintah sintaks proprietary 4GL. Pemrograman perintah sintaks memiliki keuntungan di bidang reproduktivitas serta pengendalian manipulasi data kompleks dan analisis. Perhubungan menu pull-down juga menghasilkan sintaks perintah, walaupun pengaturan awalnya harus diubah terlebih dahulu agar sintaks dapat dilihat oleh user. Program dapat berjalan secara interaktif, atau tanpa pengendalian menggunakan Fasilitas Kerja Produksi. Sebagai tambahan, bahasa makro juga dapat digunakan untuk menulis perintah subrutin dan ekstensi program Python dapat mengakses informasi di dalam kamus data dan data, kemudian secara dinamis membuat program perintah sintaks.

Ekstensi program Phyton, yang diperkenalkan pada SPSS 14, menggantikan skrip SAX Basic yang kurang fungsional, walaupun SAX Basic juga masih dapat digunakan. Ekstensi Phyton menyebabkan SPSS dapat menjalankan statistik mana pun dalam paket free software R. Sejak versi 14 dan seterusnya, SPSS dapat diatur secara eksternal melalui Phyton pada program VB.NET menggunakan “plug-ins” yang telah disediakan.

SPSS meletakkan batasan-batasan pada struktur file internal, tipe data, pengolahan data dan pencocokan file, yang memudahkan pemrograman. SPSS datasets memiliki struktur tabel 2 dimensi dimana bagian baris menunjukkan kasus-kasus (seperti pribadi atau rumah tangga) dan bagian kolom menampilkan ukuran-ukuran (seperti umur, jenis kelamin, pendapatan rumah tangga). Hanya 2 tipe data yang digambarkan : numerik dan teks (string). Seluruh pengolahan data dilakukan berurutan kasus per kasus melalui file. File dapat dipasangkan satu per satu atau satu-banyak, tapi tidak dapat banyak per banyak.

User interface grafis memiliki 2 jenis tampilan yang dapat dipilih dengan cara meng-klik salah satu dari dua tombol di bagian bawah kiri dari window SPSS. Tampilan ‘Data View’ menampilkan tampilan spreadsheet dari kasus-kasus (baris) dan variabel (kolom). Tampilan ‘Variable View’ menampilkan kamus metadata di mana setiap baris mewakili sebuah variabel dan menampilkan nama variabel, label variabel, label nilai, lebar cetakan, tipe pengukuran dan variasi dari karakteristik-karakteristik lainnya. Sel-sel di kedua tampilan dapat diedit secara manual, memungkinkan pengaturan struktur file dan pemasukan data tanpa harus menggunakan sintaks perintah. Hal ini cukup untuk dataset-dataset kecil. Dataset yang lebih besar, seperti survei statistik, lebih sering dibuat menggunakan software data entry, atau dimasukkan selama computer-assisted personal interviewing, dengan pemindaian dan menggunakan software pengenalan karakter optikal, atau dengan pengambilan langsung dari kuesioner online. Dataset-dataset ini kemudian dimasukkan ke dalam SPSS.

SPSS dapat membaca dan menulis data dari file teks ASCII (termasuk file hierarkis), paket statistik lainnya, spreadsheets dan database. SPSS dapat membaca dan menulis ke dalam tabel database eksternal relasional melalui ODBC dan SQL.

Output statistik memiliki format file proprietary (file *.spo, men-support tabel poros) yang mana, sebagai tambahan atas penampil dalam paket, disediakan pembaca stand-alone. Output proprietary dapat diubah ke dalam bentuk teks atau Microsoft Word. Selain itu, output dapat dibaca sebagai data (menggunakan perintah OMS), sebagai teks, teks dengan pembatasan tabulasi, HTML, XML, dataset SPSS atau pilihan format image grafis (JPEG, PNG, BMP, dan EMP).

Modul-modul Add-on modules menyediakan kapabiliti tambahan. Modul-modul yang tersedia, antara lain :


  • SPSS Programmability Extension (ditambahkan pada versi 14). Memungkinkan pemrograman Phyton untuk mengontrol SPSS.
  • SPSS Validation Data (ditambahkan pada versi 14). Memungkinkan pemrograman pengecekan logistik dan pelaporan nilai-nilai mencurigakan.
  • SPSS Regression Models – Regresi logistik, regresi ordinal, regresi logistik multinomial, dan model campuran (multilevel models).
  • SPSS Advanced Models – GLM yang bervariasi dan ukuran-ukuran yang diulang (dihapuskan dari basis sistem sejak versi 14).
  • SPSS Classification Trees. Membuat diagram klasifikasi dan keputusan untuk mengidentifikasi kelompok dan memprediksi perilaku.
  • SPSS Tables. Memungkinkan kontrol user-defined atas output laporan.
  • SPSS Exact Tests. Memungkinkan tes statistik atas sample kecil.
  • SPSS Categories
  • SPSS Trends
  • SPSS Conjoint
  • SPSS Missing Value Analysis. Imputasi simpel berbasis regresi.
  • SPSS Map
  • SPSS Complex Samples (ditambahkan pada Versi 12). Diatur untuk stratifikasi dan pengelompokkan serta pilihan pemilihan sample lainnya.
  • SPSS Server adalah sebuah versi dari SPSS dengan arsitektur pengguna/server. SPSS Server memiliki beberapa fitur yang tidak tersedia pada versi desktop, seperti fungsi penilaian.



Buku Ajar ITC Dalam BK Tahun 2012


Istilah Komputer / Computer berasal dari istilah asing To Compute artinya hitung. Dengan demikian maka Computer dapat diartikan sebagai alat hitung atau mesin hitung. Akan tetapi apabila istilah Computer itu di Indonesiakan menjadi mesin hitung, maka imajinasi kita akan lain dengan makna dari tujuannya, artinya seolah-olah computer itu disamakan dengan Calculator. Kemudian karena adanya pengertian hitung menghitung inilah sehingga banyak orang mengatakan bahwa mempelajari dan menggunakan komputer hanya
terbatas kepada mereka yang mempunyai pengetahuan matematika yang tinggi. Memang tidak dapat disangkal bahwa proses hitung menghitung memegang peranan pada komputer, tetapi persoalan yang banyak dijumpai oleh manusia yang mempunyai alat bantu komputer, justru proses hitung menghitung adalah relatif sedikit jumlahnya. Ditinjau dari segi bahwa komputer adalah alat yang memegang peranan penting dalam  system pengolahan data elektronis, maka komputer juga disebut sebagai alat pengolah data. Di dalam mempelajari mengenai komputer, tidak perlu seorang yang pintar mengenai matematika, akan tetapi orang-orang yang dapat berpikir secara logis. Dan cara berpikir yang logis tidak hanya dimonopoli oleh seorang matematician, namun semua orang, apakah ia seorang dokter, sastrawan, ahli hukum, ekonom, pendidik maupun seorang konselor sekalipun.


Untuk lebih lengkapnya bisa di download di sini

Peran Teman Bantu Tugas Guru BK di Sekolah


Mungkin sebagian pelajar merasa nyaman berbagi permasalahan yang mereka alami kepada teman sebaya daripada dengan guru Bimbingan Konseling (BK) yang ada di tiap sekolah.

Teman sebaya berperan sebagai sahabat yang baik untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi teman lain. Namun, hal ini bukan berarti dapat mengganti posisi konselor maupun guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah.

Hal ini disampaikan ahli Peer Counseling dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Suwarjo Raharjo dalam Seminar Optimaliasasi Layanan Konseling Melalui Konseling Peer to Peer (Sebaya) di Universitas Negeri Semarang (Unnes).

“Hal tersebut dikarenakan dalam peer counseling, seorang peer hanyalah dilatihkan teknik dasar dalam membantu individu dalam memecahkan suatu masalah. Belum mencapai pada teknik yang spesisifik,” kata Suwarjo seperti disitat dari laman Unnes, Rabu (28/3/2012).

Dalam kegiatan besutan himpunan mahasiswa (Hima) Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unnes tersebut Sujarwo mengungkapkan, keberadaan “konseling sebaya” sangatlah dibutuhkan. Terutama dalam membantu kinerja konselor ataupun guru BK di sekolah.

“Setiap peer nantinya dilatih untuk dapat mempunyai berbagai keterampilan sebagai modal utama dalam pemberian bantuan layanan konseling,” kata Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan UNY tersebut.

Dia menyebutkan, berbagai keterampilan itu adalah attending, empati, merangkum, bertanya, dan perilaku genuine. Selain itu, konseling sebaya juga dibekali keterampilan asertif, konfrontasi, dan pemecahan masalah.

“Minimal, diberi pembekalan untuk dapat menjadi pendengar yang baik sebagai seorang sahabat yang baik,” kata Suwarjo pada seminar yang diikuti tak kurang dari 50 peserta dari Jurusan BK dari berbagai universitas Yogyakarta dan sekitarnya.

Dalam laporannya, Ketua Panitia Muhammad Irawan Syah berharap, para peserta dapat langsung mempraktikkan tahapan dalam peer counseling. “Sengaja kami membatasi jumlah peserta supaya kegiatan kebih efektif,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Hima Jurusan BK FIP Unnes Zakki Nurul Amin mengungkapkan, peer counseling merupakan salah satu alternatif layanan yang dapat dilakukan oleh guru BK di sekolah untuk mengoptimalkan layanan di tengah-tengah wacana dan ekspektasi yang diberikan kepada guru BK.

Hal serupa disampaikan Sekretaris Jurusan BK FIP Unnes Kusnarto Kurniawan. Dia mengajak peserta untuk menggali ilmu yang didapat dari narasumber untuk selanjutnya diaplikasikan sebaik-baiknya di lapangan.

Sebab, teman sebaya merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh signifikan dalam perkembangan optimalisasi setiap peserta didik yang merupakan sasaran layanan dalam bimbingan dan konseling. “Kegiatan ini sekaligus simulasi praktik profesi sebagai puncak dari trilogi profesi dasar keilmuan. Selain itu substansi profesi makin terasah dan dikuasai,”

Tugas Pengawas Bimbingan dan Konseling


Lingkup kerja pengawas bimbingan dan konseling untuk melaksanakan tugas pokok diatur sebagai berikut:

  1. Ekuivalensi kegiatan kerja pengawas bimbingan dan konseling terhadap 24 (dua puluh empat) jam tatap muka menggunakan pendekatan jumlah guru yang dibina di satu atau beberapa sekolah pada jenjang pendidikan yang sama atau jenjang pendidikan yang berbeda.
  2. Jumlah guru yang harus dibina untuk pengawas bimbingan dan konseling paling sedikit 40 (empat puluh) dan paling banyak 60 guru BK.
  3. Uraian lingkup kerja pengawas bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut.
a. Penyusunan Program Pengawasan Bimbingan dan Konseling
  1. Setiap pengawas baik secara berkelompok maupun secara perorangan wajib menyusun rencana program pengawasan. Program pengawasan terdiri atas (1) program pengawasan tahunan, (2) program pengawasan semester, dan (3) rencana kepengawasan akademik (RKA).
  2. Program pengawasan tahunan pengawas disusun oleh kelompok pengawas di kabupaten/kota melalui diskusi terprogram. Kegiatan penyusunan program tahunan ini diperkirakan berlangsung selama 1 (satu) minggu.
  3. Program pengawasan semester adalah perencanaan teknis operasional kegiatan yang dilakukan oleh setiap pengawas pada setiap sekolah tempat guru binaannya berada. Program tersebut disusun sebagai penjabaran atas program pengawasan tahunan di tingkat kabupaten/kota. Kegiatan penyusunan program semester oleh setiap pengawas ini diperkirakan berlangsung selama 1 (satu) minggu.
  4. Rencana Kepengawasan Bimbingan dan Konseling (RKBK) merupakan penjabaran dari program semester yang lebih rinci dan sistematis sesuai dengan aspek/masalah prioritas yang harus segera dilakukan kegiatan supervisi. Penyusunan RKBK ini diperkirakan berlangsung 1 (satu) minggu.
  5. Program tahunan, program semester, dan RKBK sekurang-kurangnya memuat aspek/masalah, tujuan, indikator keberhasilan, strategi/metode kerja (teknik supervisi), skenario kegiatan, sumberdaya yang diperlukan, penilaian dan instrumen pengawasan.
b. Melaksanakan Pembinaan, Pemantauan dan Penilaian
  1. Kegiatan supervisi bimbingan dan konseling meliputi pembinaan dan pemantauan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan kegiatan dimana terjadi interaksi langsung antara pengawas dengan guru binaanya,
  2. Melaksanakan penilaian adalah menilai kinerja guru dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai proses pembimbingan.
  3. Kegiatan ini dilakukan di sekolah binaan, sesuai dengan uraian kegiatan dan jadwal yang tercantum dalam RKBK yang telah disusun.
c. Menyusun Laporan Pelaksanaan Program Pengawasan
  1. Setiap pengawas membuat laporan dalam bentuk laporan per sekolah dari seluruh sekolah binaan. Laporan ini lebih ditekankan kepada pencapaian tujuan dari setiap butir kegiatan pengawasan sekolah yang telah dilaksanakan pada setiap sekolah binaan,
  2. Penyusunan laporan oleh pengawas merupakan upaya untuk mengkomunikasikan hasil kegiatan atau keterlaksanaan program yang telah direncanakan,
  3. Menyusun laporan pelaksanaan program pengawasan dilakukan oleh setiap pengawas sekolah dengan segera setelah melaksanakan pembinaan, pemantauan atau penilaian.
d. Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK.

  1. Kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK dilaksanakan paling sedikit 3 (tiga) kali dalam satu semester secara berkelompok di Musyawarah Guru Pembimbing (MGP).
  2. Kegiatan dilaksanakan terjadwal baik waktu maupun jumlah jam yang diperlukan untuk setiap kegiatan sesuai dengan tema atau jenis keterampilan dan kompetensi yang akan ditingkatkan.
  3. Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara­-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembimbingan. Kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK ini dapat dilakukan melalui workshop, seminar, observasi, individual dan group conference.

Sumber:
Depdiknas. 2009.  Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas: Jakarta, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Tugas Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor


Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor terkait dengan pengembangan diri peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadian peserta didik di sekolah/madrasah.


Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam:


  • Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.
  • Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
  • Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.
  • Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.
Jenis layanan adalah sebagai berikut:
  1. Layanan orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/ madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.
  2. Layanan informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
  3. Layanan penempatan dan penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.
  4. Layanan penguasaan konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terutama kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah/madrasah, keluarga, industri dan masyarakat.
  5. Layanan konseling perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya.
  6. Layanan bimbingan kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok.
  7. Layanan konseling kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
  8. Layanan konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik
  9. Layanan mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antar mereka.
Kegiatan-kegiatan tersebut didukung oleh:

  • Aplikasi instrumentasi, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun nontes.
  • Himpunan data, yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu dan bersifat rahasia.
  • Konferensi kasus, yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik, yang bersifat terbatas dan tertutup.
  • Kunjungan rumah, yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua atau keluarganya.
  • Tampilan kepustakaan, yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir/jabatan.
  • Alih tangan kasus, yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya.

Beban Kerja Minimum Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor

Beban kerja guru bimbingan dan konseling/konselor adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik dan paling banyak 250 (dua ratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan yang dilaksanakan dalam bentuk layanan tatap muka terjadwal di kelas untuk layanan klasikal dan/atau di luar kelas untuk layanan perorangan atau kelompok bagi yang dianggap perlu dan yang memerlukan. Sedangkan beban kerja guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah membimbing 40 (empat puluh) peserta didik dan guru yang diberi tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah/madrasah membimbing 80 (delapan puluh) peserta


Mengatasi Kenakalan Remaja


Kenakalan remaja adalah pelampiasan masalah yang dihadapi oleh kalangan remaja yang tindakannya menyimpang. Menurut ahli sosiologi Kartono, istilah kenakalan remaja adalah Juvenile delinquency. Istilah ini merupakan gejala patolosis sosial pada remaja, yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial.

Dalam blognya, Psikonseling.blogspot, Evi seorang psikiater menyebutkan kenakalan remaja sebagai perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial.

Apa sebenarnya yang menjadi penyebab kenakalan remaja? dari berbagai sumber, diketahui ada tiga hal yang membuat remaja melakukan tindakan yang menyimpang. Pertama pengaruh teman sepermainan.  Ini merupakan pengaruh yang sangat besar dikalangan remaja. Di dalam kenyataannya , banyak remaja yang tidak mampu bergaul dengan kalangan tertentu. Dan jika tidak mampu bergaul mereka cenderung akan melarikan kekecewaannya terhadap narkotika.

Yang kedua adalah pendidikan. Menurut Digha Nikaya, seorang psikolog,  agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihlah sekolah yang benar jangan memilih sekolah yang sudah tercemar nama baiknya. Ketiga adalah kurangnya perhatian dari orang tua. Orang tua harusnya memberikan perhatian lebih terhadap anak.Ini juga merupakan hal yang paling mempengaruhi anak bersikap brutal, karena kurangnya perhatian orang tua terhadap anak , kemudian akan bersikap keras dan liar.

Terdapat sejumlah jenis kenakalan remaja. Yang paling utama adalah penyalahgunaan narkoba. Perlu diketahui tingkat pengguna narkoba di kalangan remaha di Indonesia sangat memprihatinkan. Dari data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus penyalahgunaan narkoba terus meningkat di kalangan remaja. Dari 2,21% (4 juta orang) pada tahun 2010 menjadi 2,8 (sekitar 5 juta orang) pada tahun 2011. Yang berikutnya adalah seks bebas. Contoh kenakalan remaja dalam pergaulan seks bebas akan bersangkutan dengan HIV/AIDS . Ketiga adalah tawuran antarpelajar. Di kota-kota besar, satu tahun belakangan ini, tawuran antarpelajar semakin meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Dampak dari kenakalan remaja yang dibiarkan memang memengaruhi kehidupan masa depan remaja itu sendiri. Misalnya remaja akan tumbuh menjadi sosok yang berkepribadian buruk .Remaja tersebut akan dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang. Akibat dikucilkan , remaja bisa mengalami gangguan kejiwaan, bukan berarti gila, tapi merasa dikucilkan dalam hal sosialisasi, merasa amat sedih atau malah membenci orang-orang disekitar.

Penulis: Achmad Romdoni (SMAN 51 Jakarta), M Zulian E (SMA Trampil 2 Jakarta) Salsabila Hamida (SMA Sudirman Jakarta), Avanttie Anandita (SMA Angkasa 2 Jakarta)

Pengertian Tentang Kenakalan Remaja


Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transis.


Definisi kenakalan remaja menurut para ahli

  • Kartono, ilmuwan sosiologi “Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.
  • Santrock “Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”

Sejak kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?
Masalah kenakalan mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.

Jenis-jenis kenakalan remaja
  1. Penyalahgunaan narkoba
  2. Seks bebas
  3. Tawuran antara pelajar
Penyebab terjadinya kenakalan remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
  1. Faktor internal:
Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
  1. Faktor eksternal:
Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
Teman sebaya yang kurang baik
Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Hal-hal yang bisa dilakukan/ cara mengatasi kenakalan remaja:
Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
  • Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
  • Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
  • Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
  • Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

Pengertian Umum Tentang Konselor Pendidikan


Konselor pendidikan adalah konselor yang bertugas dan bertanggungjawab memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan. Konselor pendidikan merupakan salah satu profesi yang termasuk ke dalam tenaga kependidikan seperti yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maupun Undang-undang tentang Guru dan Dosen.
Konselor pendidikan semula disebut sebagai Guru Bimbingan Penyuluhan (Guru BP). Seiring dengan perubahan istilah penyuluhan menjadi konseling, namanya berubah menjadi Guru Bimbingan Konseling (Guru BK). Untuk menyesuaikan kedudukannya dengan guru lain, kemudian disebut pula sebagai Guru Pembimbing.
Setelah terbentuknya organisasi profesi yang mewadahi para konselor, yaitu Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN), maka profesi ini sekarang dipanggil Konselor Pendidikan dan menjadi bagian dari asosiasi tersebut.


Latar belakang diperlukannya konselor pendidikan

Kehidupan demokrasi: Guru tidak lagi menjadi pusat dan siswa tidak hanya menjadi peserta pasif dalam kegiatan pendidikan. Guru hanya membantu siswa untuk dapat mengambil keputusannya sendiri.
Perbedaan individual: Pembelajaran yang umumnya dilakukan secara klasikal kurang memperhatikan perbedaan siswa dalam kemampuan dan cara belajarnya sehingga beberapa siswa mungkin akan mengalami kesulitan.
Perkembangan norma hidup: Masyarakat berubah secara dinamis. Demikian pula dengan berbagai norma hidup yang ada di dalamnya. Setiap orang harus bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan tersebut.
Masa perkembangan: Seorang individu mengalami perkembangan dalam berbagai aspek dalam dirinya dan perubahan tuntutan lingkungan terhadap dirinya. Diperlukan penyesuaian diri untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut.
Perkembangan industri: Seiring dengan perkembangan teknologi yang cepat, industri juga berkembang dengan pesat. Untuk memiliki karier yang baik, siswa harus bisa mengantisipasi keadaan tersebut.


Bidang layanan

Bidang layanan konselor pendidikan di sekolah adalah
Bimbingan pribadi-sosial: untuk mewujudkan pribadi yang taqwa, mandiri, dan bertanggungjawab.
Bimbingan karier: untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pendidikan.
Bimbingan belajar: untuk mewujudkan pribadi pekerja yang produktif.


Pendekatan Tehnik Konseling

Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas – tugas profesionalnya, seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai, niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif.

Dalam bentuk tayangan slide, Dr. DYP Sugiharto, M.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling, diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme, gestalt, psikoanaliss, rational emotive therapy (RET), dan trait and factor.Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan.

Download

sumber : AKHMAD SUDRAJAT - Wordpress

Masalah Pribadi dan Sosial dalam Perspektif Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan Konseling secara umum (dalam pola 17) memecah bidang layanan bimbingan dan konseling Pribadi dengan Bimbingan dan Konseling Sosial. Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling, masalah sosial dibedakan dengan masalah pribadi melalui pemisahan layanan ini. Akan tetapi dalam perspektif psikologi masalah pribadi dan masalah sosial pada dasarnya sama, tidak terpisahkan dan sulit dibedakan.

Sebagai mahasiswa calon konselor kita harus lebih memahami perbedaan diantara keduanya di dalam layanan Bimbingan dan Konseling serta membedakannya dari sekedar menyangkut permasalahan-permasalahan berkenaan pribadi dan sosial (pemahaman sempit). Apabila ditinjau dari sudut padang masalahnya, masalah sosial berimpitan dengan masalah pribadi. Penjelasannya sebagai berikut :
1. Masalah sosial yang dimaksud adalah masalah sosial yang menyangkut diri klien (kajian ilmu Bimbingan dan Konseling), bukan masalah sosial kemasyarakatan (kajian ilmu sosiologi. Masalah sosial yang dimaksud di dalam kajian ilmu Sosiologi adalah masalah-masalah sosial yang timbul dalam kehidupan bermasyarakat dan obyeknya adalah masyarakat, seperti pengangguran, kriminalitas, kemiskinan, perbedaan strata ekonomi dan sosial dalam masyarakat. Sementara dalam Bimbingan dan Konseling, obyek masalah sosial adalah individu manusia dalam hubungannya dengan individu lain.
2. Masalah sosial konseli bersumber dari Masalah pribadi konseli.
Jika dipahami bahwa masalah sosial berkenaan dengan individu. Maka, lahirnya masalah sosial dalam individu pada dasarnya merupakan efek atau pengaruh dari masalah pribadi yang terjadi dalam diri individu tersebut. Misalnya, konseli yang mengalami masalah pribadi disebabkan orang tuanya dirumah tidak harmonis, konseli tersebut menampakkan gejala-gejala perilaku pendiam dan murung saat di sekolah dan ketika bergaul dengan teman-teman. Gejala itu kemudian menahun dan menjadi sebuah masalah sosial yaitu mengucilkan diri dari pergaulan dengan teman-temannya. Dapat dilihat disini bahwa sumber utama masalah sosial yang dialami individu adalah masalah pribadi.
3. Rekonstruksi hubungan sosial melalui layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok sebagai upaya perbaikan hubungan sosial konseli adalah perbaikan diri pribadi konseli bukan perbaikan hubungan sosial yang dialami konseli dengan lingkungan sosial. Sehingga, di dalam Bimbingan dan Konseling kelompok konseli bisa bersama dengan anggota kelompok lain yang tidak memiliki hubungan masalah sosial dengan klien bahkan bisa tidak saling mengenal sebelumnya. Pemecahan masalah dalam konseling kelompok lebih ditekankan pada dinamika kelompoknya, yang membuat konseli merasa aman dan percaya pada kelompok agar dalam kehidupan nyata konseli benar-benar dapat membaur pada kelompok yang lebih luas. Dorongan, motivasi dan pemecahan masalah pada konseling kelompok lebih terasa bagi konseli karena persamaan nasib para anggota kelompok yang lain. Dan juga, permasalahan yang dibahas pada konseling kelompok adalah masalah yang lebih bersifat pribadi. Sementara perbaikan hubungan konseli dengan lingkungan sosial konseli adalah atas kehendak konseli sendiri akibat dari pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Kelompok.

Apabila kita kaji lebih dalam. Menurut Dr. Syamsu Yusuf dan Dr. Ahmad Juntika Nurihsan (2008) disebutkan bahwa bidang layanan Bimbingan dan Konseling pribadi merupakan layanan yang diberikan agar konseli dapat mengembangkan:
1. Ketakwaan kepada Tuhan Yang maha Esa
2. Perolehan sistem nilai
3. Kemandirian emosional
4. Pengembangan keterampilan intelektual
5. Menerima diri dan mengembangkannya secara efektif

Sementara bidang layanan Bimbingan dan Konseling sosial merupakan layanan yang diberikan agar konseli dapat mengembangkan :
1. Perilaku sosial yang bertanggung jawab
2. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya
3. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.

Di dalam poin-poin diatas, jelas sekali bahwa obyek dari layanan tersebut adalah diri pribadi konseli. Pada layanan pribadi, konseli lebih diarahkan pada pengembangan kediriannya sebagai makhluk individual. Sementara pada layanan sosial, konseli dikembangkan kediriannya dan hubungan interaktifnya dengan lingkungan sosialnya sebagai makluk sosial. Sehingga bukan pada persoalan permasalahannya (apakah termasuk masalah pribadi-atau masalah sosial).

Dengan demikian, pada layanan bimbingan dan konseling sosial, konselor dan konseli lebih dihadapkan pada cara untuk mengembangkan diri konseli menjadi manusia seutuhnya. Baik secara konseling perseorangan (individual) maupun secara kelompok. Konseli lebih dibekali seperangkat cara (metode) untuk memecahkan permasalahannya sendiri ketimbang mencari pemecahan atas masalah konseli. Hal ini yang membedakan layanan pribadi dengan layanan sosial.
Setidaknya ada 4 bagaimana (cara), yang merupakan bahasan dari layanan bimbingan dan konseling sosial antara lain:
1. Bagaimana konseli dapat menempatkan diri dalam lingkungan sosial. Individu sebagai makhluk sosial, sehingga konseli ditumbuhkan pemahamannya mengenai hakekat kemanusiaannya.

2. Bagaimana konseli bersikap baik dan semestinya terhadap lingkungan sosial menurut standar moral, hukum dan agama yang berlaku setempat. Misalnya sopan santun, tata krama, rasa menghormati dan menghargai orang lain.

3. Bagaimana mendidik perilaku konseli yang tidak normative menjadi lebih normatif.

4. Bagaimana agar konseli dapat belajar dari lingkungan sosialnya, yang baik diambil, yang jelek dibuang.

5.Bagaimana membuat konseli dapat memahami perbedaan lingkungan sosial budaya, mengenal perbedaan lingkungan budaya yang multikultural dan dapat menyesuaikan diri baik dalam lingkungan yang berbeda maupun dnegan orang yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda dengan dirinya.

Referensi :
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil). Jakarta: Ghalia Indonesia.
Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. 2008. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya