Pada saat yang lalu saya mendapatkan tugas membuat skenario konseling individu, dalam konseling ini menggunakan metode Client Centered. Semoga menginspirasi.
Skenario konseling
individu
Client : Berjalan menuju ruangan BK
dengan perasaan ragu ragu
“Selamat siang bu.” Sapa sang client
kepada konselor
Konselor : “Silahkan masuk, wah tidak
seperti biasanya kamu tiba tiba datang ke ruangan ibu ada yang bisa ibu
bantu.?”
Client : “mmmm.. begini bu..”
sambut sang murid yang masih berdiri, namun langsung di potong oleh konselor
Konselor : “Sebentar..! kamu duduk saja di
situ, nah begini kan lebih enak ceritanya. Bagaimana, sepertinya kamu sedang
ada masalah.?”
Client : “Begini bu, mungkin ibu
sudah tau kalau saya sering tidak masuk sekolah, bahkan dalam 1 minggu saya
hanya masuk 2 hari saja”
Konselor : “hmmm.. iya, ibu tau ibu kan
sudah membuat surat peringatan untuk kamu”
Client : “iya bu, pada awalnya saya
tidak masuk sekolah karena ada pelajaran yang saya kurang kuasai, namun lama
kelamaan saya menjadi terbiasa untuk menghindari pelajaran yang kurang aku
sukai.”
Konselor : “hmm.. ternyata seperti itu ya”
Client : “apalagi selama saya
membolos saya mempunyai beberapa teman yang seperti saya, jadi saya semakin
berani untuk tidak masuk sekolah karena ada dorongan dari teman teman yang
lain, keinginan saya untuk tidak masuk sekolah semakin besar ketika saya masuk
kelas dan tidak di terima oleh guru mata pelajaran tertentu, dan saya terpaksa
untuk keluar kelas.”
Konselor : “Begitu ya, memang ada beberapa
guru yang menerapkan metode pengajaran seperti itu, agar anak didiknya tetap
rajin mengikuti pelajaran yang beliau berikan.”
Client : “ Iya bu, pada awal
semester saya dan teman sekelas membuat perjanjian dengan guru tertentu jika
kita tidak masuk kelas beliau selama beberapa kali dengan tanpa alas an, kita
tidak boleh mengikuti mata pelajaran yang beliau berikan. Kita dapat mengikuti
pelajaran beliau jika saya sudah datang bersama orang tua atau wali saya ke
tempat beliau.”
Konselor : “iya, itu dimaksudkan agar orang
tua atau wali mengetahui apa yang telah di lakukan oleh putra putrinya, bukan
untuk maksud tertentu.”
Client : “tapi bu, permasalahannya
saya di keluarkan dari kelas bukan hanya satu mata pelajaran, tapi ada 3 mata
pelajaran, dan saya semakin terjebak akan hal itu. Saya sendiri takut jika
harus mengatakan semua ini kepada orang tua saya.”
Konselor : “tapi jika kamu tidak bertindak,
dalam hal ini jujur kepada orang tua kamu, kamu akan semakin terjebak, dan
terjerumus semakin dalam.”
“Sebentar ibu cek terlebih dahulu” Konselor pun beranjak dari sofa dan
menuju ke sebuah rak buku
“Nah, ini..” konselor mengambil sebuah buku yang agak tebal.
Konselor : “ Ibu lihat disini, kamu memang
sudah sering tidak masuk sekolah, bahkan nilai semester 1 kamu ada yang masih
kosong, ini berarti ada seorang guru yang tidak member nilai kepadamu, dan satu
lagi kamu belum membayar uang SPP selama tiga bulan.!”
Client : “iya bu, pada penerimaan
raport kemarin saya tidak bisa mengambil raport karena nilai saya masih ada
yang kosong. Dan untuk uang SPP saya mengakui uang SPP itu saya gunakan untuk
membiayai saya ketika saya membolos”
Konselor : “nah.. sekarang kamu sudah tau
betapa banyaknya masalah yang kamu terima sekarang, ini semua akibat dari kamu
tidak jujur, dan menunda nunda masalah. Bukannya diselesaikan namun kamu
menumpuknya dan menganggapnya remeh”
Client : “iya bu, sekarang saya
menyesal, dan saya ingin memperbaikinya”
Konselor : “ibu tidak bisa merubahnya,
semua ini tergantung diri kamu sendiri, masih ada 1 semester kedepan mungkin
jika kamu segera menyelesaikan sedikit demi sedikit pasti bisa mengejar
kekurangan di semester 1”
Client : “tapi saya harus
bagaimana, saya bingung, sekaligus takut”
Konselor : “sekarang yang membuat kamu
bingung apa dan apa yang kamu takutkan”
Client : “saya bingung harus
dimulai dari mana, apa yang harus saya lakukan, dan yang saya takutkan adalah
jika orang tua saya tau mereka pasti marah”
Konselor : “begini, kamu harus
menyelesaikan dengan guru yang bermasalah dengan kamu, jika kamu takut dimarahi
bagaimana jika kelak kamu tidak naik kelas ke kelas 3, orang tua kamu pasti
marah dan sekaligus kecewa, bahkan mereka harus menanggung malu karena anaknya
tidak naik kelas.”
Client : “Begitu ya..” client
terdiam dan tertunduk.
Konselor : “sekarang coba kamu membuat
sebuah daftar masalah yang sedang kamu hadapi, dan kamu selesaikan yang menurut
kamu paling berat.”
Client : “Mungkin yang terberat adalah
saya harus datang ke guru yang telah mengeluarkan saya dari kelas bersama
dengan orang tua, tapi jika seperti itu saya harus bilang kepada orang tua
tentang apa yang telah saya lakukan”
Konselor : “nah..! itu kamu tahu, sekarang
tinggal kamu mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur. Cobalah berkata
dengan lembu dan tunjukan rasa menyesal kamu. Jika kamu mengatakannya dengan
tulus pasti orang tua kamu mengerti, dan menghargai usaha kamu untuk
memperbaiki semuanya.”
Client : “Iya bu, mungkin saya akan
coba mengatakannya malam ini"
Konselor : “Lebih cepat lebih baik, kamu
harus berani jujur walau terkadang itu menyakitkan. Namun itu lebih baik jika
kamu harus berbohong untuk menutupi semuanya.”
Client : “Tapi, nanti orang tua
saya jadi tahu kalau saya telah menggunakan uang SPP untuk bolos sekolah.”
Konselor : “Iya, kamu harus mengatakan
semuanya, sebagai orang tua walaupun marah tapi tetap akan membantu
menyelesaikan masalah yang dihadapi anaknya.”
Client : “ Begitu ya bu, saya akan
jujur dan mengatakan semuanya, terima kasih ya bu atas sarannya.”
Konselor : “iya, kamu harus berani jujur
untuk menyelesaikan masalahmu sebelum kamu semakin terjerumus lebih dalam”
